3 Fase penting dalam membina hubungan

Jangan ulur waktu untuk menentukan kelanjutan hubungan cinta. Ayo, amati fakta-fakta yang sering terjadi dan ikuti naluri agar kamu tidak terjerumus ke dalam hubungan tak ‘bermasa depan’.

Di antara rangkaian kalimat cinta yang membuai, apa mau dikata, hubungan asmara adalah arena penilaian untuk menilai kualitas kebersamaan. Baik itu dalam hitungan hari, minggu, maupun tahun, Ada Iho, keputusan penting yang harus kamu buat di dalam hidup. Jika pandai-pandai melakukannya, kamu akan terbebas dari jalinan cinta yang sekadar menguras tenaga, emosi, dan waktu percuma.

3 Minggu pertama

Pada tahap ini, daya tarik sebatas ‘skin deep memegang peran utama. Jangan sampai adanya ketertarikan fisik menjadi dominan, body language yang bikin ‘gerah’ (misalnya, gaya tertawa yang berlebihan), atau percakapan yang enggak nyambung, bisa membuat dia ilfil saat menghabiskan waktu dengan kamu. Jika pada saat kencan pertama kamu bolak-balik mengirim SMS atau berharap orang rumah menyuruh kamu pulang, berpikirlah dua kali untuk melakukan kencan kedua. Karena itu berarti kamu tidak menemukan kenyamanan bersamanya. Jangan lagi tempatkan diri pada situasi tidak nyaman.

Bila ternyata ada kecocokan, manfaatkanlah kesempatan kencan (ngedate) selanjutnya untuk menggali informasi sebanyak mungkin tentang dirinya. Tentu tanpa menimbulkan kesan bahwa Kamu sedang menginterogasi. Kian banyak hal yang Kamu ketahui tentang dia, maka akan semakin kaya pula bahan pertimbangan Kamu untuk beranjak ke tahap selanjutnya. Variasikan acara kencan supaya tidak lekas bosan. Misalnya, alih-alih nonton film di bioskop, boleh juga bila Kamu sesekali jalan-jalan ke Dunia Fantasi atau pergi olahraga bareng.

3 Bulan Pertama

Setelah melewatkan waktu sekian lama bersama dirinya, kamu akan mulai menimbang-nimbang apakah dia orang yang tepat untuk dinobatkan menjadi kekasih? Bukan hanya terjadi pada kamu, namun begitu pula yang dialami oleh pasangan kamu. Jadi, berikan pula waktu baginya untuk berpikir. Kesalahan terbesar yang banyak dilakukan dalam tahap ini, menurut Gray, adalah mengejar-ngejar pasangan untuk memperoleh kepastian.

Rileks saja, tak perlu tergesa-gesa! Gunakan waktu yang ada untuk memastikan perasaan. Jika kamu merasa nyaman berdekatan dengannya dan tertarik untuk mengetahui dirinya lebih jauh, maka boleh jadi ia cocok menjadi kandidat kekasih.Tak ada salahnya mengenalkan dia pada sahabat untuk mendapatkan second opinion. Meski keputusan tetap berada di tangan kamu, namun setidaknya kamu bisa melihat ‘pkamungan’ lain dari kacamata sahabat atau orang terdekat. Siapa tahu Kamu terlena pada pesonanya sehingga kurang dapat berpikir obyektif.

Bagi yang berada dalam posisi menunggu, ketimbang uring-uringan, manfaatkan ‘semangat jatuh cinta’ yang melanda diri kamu untuk melakukan berbagai hal positif. Mulai dari mengoreksi penampilan, mempelajari hal baru, menyuntik semangat kerja, dan sebagainya. Dengan begitu, ke manapun nantinya arah hubungan ini, Kamu tidak akan merugi. Tapi jangan lupa tetapkan deadline agar hubungan tidak berstatus ‘digantung’ terlalu Iama. Jika perlu, boleh juga kok bersikap lebih asertif (terbuka lebih dahulu dalam menyatakan perasaan).

3 Tahun Pertama

Meski sudah minim gelora perasaan dan lika-liku perjalanan emosi yang mengasyikkan, fase ini merupakan tahap paling nyaman dilakoni. Kamu dan dia sudah cukup saling mengenal sehingga merasa aman dan nyaman. Sayangnya, menurut Gray, karena merasa hubungan sudah ‘mapan’, kedua belah pihak biasanya berhenti melakukan sesuatu untuk membuat pasangannya merasa istimewa, sehingga hubungan terancam jenuh. Ini tidak boleh terjadi

Situasi stabil dalam fase ini bisa bergolak kembali bila salah satu pasangan melirik orang lain atau mulai menyinggung soal pernikahan. Biasanya pihak wanita yang selalu lebih dahulu membuka pembicaraan mengenai pernikahah. Sedangkan bagi pria, pernikahan dan masa pacaran adalah dua hal amat kontras. Bersikap sebagai kekasih sempurna belum tentu menandakan pria mudah diajak menemui penghulu. Perubahan ini bisa membuatnya menarik diri. Namun, bila dia menjauh, tak perlu panik dan menyuruhnya segera keluar dari dalam ‘gua’. ltu adalah cara pria berpikir dan menyiapkan diri sebelum melangkah ke tahap lebih serius.

Apakah selama ini kamu dan dia sudah saling terbuka terhadap perasaan masing-masing, apakah kamu tidak menyadari (atau pura-pura tidak tahu) bahwa kamu berdua sebenarnya memiliki harapan berbeda, atau memang situasi belum mengizinkan. Tak jarang pula faktor restu kedua orang tua menjadi penentu kelanjutan hubungan kalian. Ada beberapa pasangan yang memang tidak mendapatkan rintangan yang berarti dalam hal ini. Namun ada juga pasangan yang menganggap hal ini adalah sebagai hal yang menakutkan karena berujung pada kegagalan melanjutkan hubungan dikarenakan orang tua yang tidak merestui hubungan mereka.

Jika terjadi hal demikian, jangan lantas langsung menyerah. Tempuhlah terlebih dahulu rintangan-rintangan yang ada, karena pada dasarnya restu orang tua itu masih bisa berubah, tergantung bagaimana kamu mempresentasikan pasangan kamu kepada orang tua atau keluarga kamu. Tapi jika cara tersebut sudah dilakukan dan orang tua masih tidak merestui, maka perpisahan dalam hal ini mungkin akan menjadi solusi yang terbaik. Ingat, perpisahan bukan berarti kegagalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s